Uji Berkendara Peugeot RCZ VS Kawasaki ZX-6R 636

Sebuah kendaraan selain menjadi sebuah alat transportasi, ia juga menjadi cerminan dan status pemiliknya. Salah satunya ialah gaya hidup pemilik kendaraan yang juga akan tercermin melalui jenis tunggangan yang digunakan. Nah, sekarang kami uji berkendara di jalan antara Peugeot RCZ VS Kawasaki ZX-6R 636. Siapa lebih baik?

Sebagai pecinta mobil sport, Resa telah memberikan tantangan pada Anton untuk mencicipi paragliding. Saatnya Anton untuk melemparkan tantangan kepada Resa, untuk ikut mencoba olahraga yaitu wall climbing.

Dengan penuh sema­ngat, Resa pun menerima tantangan tersebut. olahraga wall climbing rasanya tidak membutuhkan usaha yang keras dalam melakukannya, karena berbeda dengan hobi Resa yang hanya tersedia di dataran tinggi, ternyata cukup banyak tebing buatan di Jakarta yang bisa digunakan untuk memuaskan hasrat olahraga memanjat tersebut. Salah satunya di Gelanggang Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan.

Untuk menjawab tantangan dari Anton, perjalanan Resa dengan Peugeot RCZ mengarungi rute lalu lintas dalam kota, banyak mata pengendara lain tertuju padanya. Bentuk RCZ yang tak lazim jika diban­dingkan kendaraan pada umumnya, membuatnya terlihat eksotis.

Jika Resa cukup bisa menarik perhatian pengendara lain dengan Peugeot RCZ, Anton hanya bisa gigit jari. Karena desain Kawasaki ZX-6R 636 yang sepintas mirip dengan Kawasaki Ninja 250R yang sudah jamak beredar di jalan, membuatnya tidak begitu menarik perhatian secara tampilan. Tapi begitu putaran grip gas dimainkan, barulah orang sadar akan suara menggelegar dari mesin 4 silinder 636 cc ZX-6R 636.

Keistimewaan desain bodi Peugeot RCZ tidak berlanjut pada sektor mesin. Mesinnya berkapasitas 1.598 cc 4 silinder turbo, yang menghasilkan tenaga 163 dk dan torsi 240 Nm. Tidak ada yang salah, hanya terasa tidak memiliki tenaga buas layaknya Kawasaki ZX-6R 636 yang bertenaga 129 dk. Tapi untuk ber­kendara di dalam kota, respons akselerasinya lebih dari memadai. Peugeot RCZ ini memang cocok mendapatkan predikat seba­gai mobil daily sportscar.

Tanpa disadari, tantangan sudah dimulai ketika Resa harus mengendarai RCZ di jalan Ibu Kota. Pa­salnya, Peugeot RCZ harus mengarungi kemacetan yang cukup menyita waktu, sedangkan Anton dapat sampai lebih dulu ke tempat tujuan dengan Kawasaki ZX-6R 636, meski kaki­nya lagi-lagi harus tersiksa panas mesin khas sepeda motor mesin besar.

Meski begitu, dengan bentuk bodi kompak RCZ, tidak begitu menyulitkan ketika melewati kemacetan. Benar saja, Anton dengan Kawasaki ZX-6R 636-nya sampai lebih dulu di lokasi meski mulai bergerak dari titik yang sama.

Sesampainya di lokasi, Resa sudah dihadapkan tebing buatan setinggi 20 meter yang menjadi sarana atlet panjat tebing dalam mengasah kemampuannya.

Saatnya menyiapkan diri untuk memanjat tebing tersebut. Sebenar­nya banyak peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan wall climbing. Namun pada dasarnya, harus memiliki harness set untuk kemanan dan wall climbing shoes agar lebih nyaman. Peralatan itu telah disediakan oleh pemilik arena. Namun jika ingin memilikinya, sepatu khusus panjat tebing ini dibanderol Rp 2 jutaan. Sedangkan harness set sekitar Rp 3 jutaan.

Tali sepanjang 50 meter pun siap menjadi pe­ngaman bagi para pemanjat. Kesulitan yang ditemui adalah menopang berat badan menggunakan ke­dua tangan dan kaki untuk melawan gravitasi bumi. Ditambah harus memanjat tebing tersebut, hingga berada di puncak dengan tinggi 20 meter, selain nyali tenaga ekstra dibutuhkan untuk menyelesaikan tantangan ini.

Intinya, meski hobi ini terlihat mudah, tapi ternyata masuk kategori ekstrem. Karena selain membutuhkan kekuatan fisik, keberanian pun perlu disemburkan. Cukup mencerminkan sebuah hobi bagi pengendara sepeda motor supersports yang memacu adrenalin selama menjinakkannya.

Artikel Terkait



Hoctro

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes